Kisah perjuangan menempuh pendidikan doktoral kerap identik dengan pengorbanan panjang, dan hal itu benar-benar dirasakan oleh pasangan suami istri sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Ahmad Ali, S.Pd., M.Pd. dan Wiwin Pramita Arif, S.Pd., M.Pd. Keduanya berhasil meraih gelar doktor pada tahun yang sama, 2026, dalam rentang waktu yang berdekatan, setelah sekian lama menjalani hubungan jarak jauh (long distance marriage/LDM) demi menuntaskan studi masing-masing di kampus yang berbeda.
Ahmad Ali lebih dahulu menyelesaikan studi doktoralnya di Program Doktor Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Makassar (UNM), melalui Promosi Doktor yang digelar pada Rabu, 8 April 2026, di Ruang Teater Lantai 12, Gedung Menara FMIPA UNM. Ia mempertahankan disertasi berjudul "Pengembangan Model STILL-aLI untuk Meningkatkan Keterampilan 4C dan Literasi Digital Mahasiswa Pendidikan Biologi," yang menghasilkan model pembelajaran inovatif guna menjawab tantangan keterampilan abad ke-21 di kalangan mahasiswa Pendidikan Biologi.
Tak berselang lama, sang istri, Wiwin Pramita Arif, turut menuntaskan perjuangan akademiknya melalui Ujian Akhir Disertasi Program Doktor S3 Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang (UM), yang berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026, di Ruang Rapat Gedung B20 Lantai 2 FMIPA UM. Disertasinya berjudul "Pemberdayaan Literasi Botani Mahasiswa melalui Kajian Morfologi dan Fitokimia Diospyros (Kayu Eboni) di Sulawesi dalam Pengembangan Pembelajaran Berbasis Masalah," yang mengangkat potensi kayu eboni khas Sulawesi sebagai konteks pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan literasi botani mahasiswa.
Keduanya menempuh studi doktoral di kampus yang berbeda pulau — Ahmad Ali di Makassar dan Wiwin Pramita Arif di Malang — sehingga harus rela menjalani LDM dalam waktu yang tidak singkat sembari tetap menjalankan tugas sebagai dosen di UIN Alauddin Makassar. Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil manis: keduanya sama-sama menyandang gelar doktor pada tahun 2026, dengan jarak waktu kelulusan yang berdekatan.
Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa komitmen terhadap pengembangan diri dan keilmuan dapat berjalan seiring dengan komitmen dalam rumah tangga, sekalipun harus ditempuh dengan jarak dan pengorbanan. Kehadiran dua doktor baru ini juga diharapkan semakin memperkuat kualitas akademik Program Studi Pendidikan Biologi UIN Alauddin Makassar, khususnya dalam pengembangan riset dan inovasi pembelajaran biologi ke depannya.
Oleh: Ummul Hasanah