Gowa — Materi sistem saraf selama ini dikenal sebagai salah satu materi Biologi yang cukup sulit dipahami siswa karena bersifat abstrak. Proses penghantaran impuls saraf, misalnya, tidak dapat diamati secara langsung dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa kerap kesulitan membayangkan bagaimana mekanisme tersebut sebenarnya bekerja.
Menjawab tantangan itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi UIN Alauddin Makassar menghadirkan media pembelajaran bernama Neuron Track Boks dalam kegiatan pengabdian berbasis Service Learning di kelas XI KM1 SMA Negeri 10 Gowa, Rabu (22/7/2026). Media ini dirancang khusus untuk memvisualisasikan struktur neuron — mulai dari dendrit, badan sel, hingga akson — sekaligus menggambarkan alur penghantaran impuls saraf secara lebih konkret dan interaktif.
Bukan sekadar alat peraga, media Neuron Track Boks dipadukan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Siswa tidak hanya mengamati media, tetapi diajak melalui lima tahapan pembelajaran: mulai dari diberikan permasalahan nyata terkait sistem saraf, mengorganisasikan diri untuk memahami konsep yang relevan, melakukan penyelidikan dengan bantuan media, menyampaikan hasil pemecahan masalah, hingga bersama-sama mengevaluasi dan menyimpulkan hubungan antara struktur neuron dan mekanisme penghantaran impuls.
"Media Neuron Track Boks berfungsi sebagai alat bantu untuk memvisualisasikan konsep sistem saraf, sedangkan model PBL mengarahkan proses pembelajaran agar peserta didik terlibat dalam mengkaji dan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari," demikian tertulis dalam laporan kegiatan yang disusun mahasiswa Kelompok 1 di bawah bimbingan dosen mata kuliah Inovasi Pembelajaran, Ummul Hasanah, S.Pd., M.Pd.
Kombinasi media dan model pembelajaran ini dinilai berhasil menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aktif dibandingkan penjelasan verbal semata. Siswa terlihat antusias mengikuti setiap tahap kegiatan meski waktu pelaksanaan terbatas hanya satu jam pelajaran.
Bagi mahasiswa sendiri, kegiatan ini menjadi ajang penerapan langsung ilmu yang diperoleh di kampus sekaligus latihan mengelola kelas nyata — mulai dari merancang media, menerapkan model pembelajaran, hingga membimbing siswa menyelesaikan masalah secara berkelompok. Kegiatan pengabdian berbasis Service Learning semacam ini menjadi salah satu wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, yang mempertemukan kepentingan akademik mahasiswa dengan kebutuhan nyata sekolah mitra.
Oleh: Ummul Hasanah